Senin, 10 Desember 2012

SINERGISME PERAN ORANG TUA DAN GURU DALAM MENDIDIK ANAK



BAB I
PENDAHULUAN

A.                Latar Belakang Permasalahan
Pada kesempatan kali ini, saya memberi judul “Psikologi Mengaji” yang mungkin belum begitu lazim di dunia psikologi. Meski mungkin ada yang memperdebatkan atau mempermasalahkan, itu hanya sekedar nama, yang penting adalah aplikasi di dalamnya.
Dalam materi ini, pembahasannya nanti bukan hanya sekedar teori namun juga berdasarkan praktek bahkan melalui proses penelitian. Ini karena dorongan dari beberapa pengamatan dan cerita dari banyak majelis pengajian. Mulai dari, kalau ngaji masih ada yang ngantukan, telatan (terlambat), yang mengajar penyampainnya mbules, mboseni (membosankan) dan sejenisnya. Sehingga kemudian saya tertantang, bagaimana persepsi orang bahwa mengaji itu yang tadinya ngantukan jadi bersemangat, yang telatan jadi  rajin, pengajar yang penyampaiannya mbules bisa menjadi mantap, yang mboseni  bisa menyenangkan.
Pertanyaan saya kepada Anda untuk mendukung dan mempraktekkan materi ini mulai dari sekarang dan seterusnya antara lain:
Pernahkah Anda berfikir, mengapa jika menonton TV walaupun lama terasa sebentar, namun ketika mengikuti pengajian walaupun sebentar terasa lama?
Mengapa ketika kita menonton bola (khususnya bagi penghobi bola) meskipun sudah larut malam, 90 menit bahkan lebih bisa tetap fit mengikuti, namun ketika mengaji baru 15 menit sudah ngantuk bahkan tidur?
Mengapa jika menonton sinetron bisa menghayati, tapi ketika mengikuti materi pengajian susah menghayati?
Saya tidak tahu seberapa banyak orang yang pernah memikirkannya dan kemudian mencari solusi agar bisa mengikuti pengajian dengan baik, memperhatikan, semangat dan berusaha untuk menghayatinya. Sekarang saya ganti bertanya kepada para pengajar/pemateri:
Jika saat Anda mengajar kemudian pendengarnya mengantuk, melamun, ngobrol sendiri, siapa yang pertama kali Anda koreksi?
Saya tidak tahu juga seberapa banyak mengoreksi pendengarnya alias menyalahkannya, atau ada juga yang mengoreksi diri sendiri dulu, dia berinstrokpeksi, apa yang kurang dari dirinya sehingga penerimaan materi kurang direspon oleh para pendengarnya.
Oke, sekarang kita tidak usah menyalahkan siapa-siapa, mulai sekarang dan seterusnya di saat kita menjadi pengajar (guru) bisa memberikan penyampaian yang mantap, menarik dan mudah dipahami. Sedangkan di saat kita menjadi pendengar kita bisa usaha menata diri, usaha untuk semangat dan usaha untuk memahaminya.

B.                 Perumusan Masalah

1.      Bagaimana peran dari seorang guru dalam mendidik anak?
2.      Bagaimana peran orang tua dalam hal mendidik anak?
3.      Pentingnya sinergi antara guru dan orang tua dalam mendidik anak.

C.                 Penegasan Istilah

·         Sinergi, sinergisme: bentuk kerjasama antara suatu pihak tertentu dengan pihak yang lainnya.
·         Guru: pendidik yang disiapkan oleh lembaga pendidikan tertentu yang diberi tugas untuk mendidik orang lain, dalam hal ini yang dimaksud adalah anak.
·         Orang tua merupakan bagian kecil dari sebuah keluarga tetapi memiliki tugas mutlak dalam mendidik anaknya.
·         Mendidik adalah usaha atau serangkaian proses yang dilakukan oleh pendidik terhadap anak/peserta didik dalam pembentukan perilaku menuju ke arah kedewasaan.
·          Anak: manusia pada usia tertentu yang membutuhkan arahan, dukungan, dan bimbingan dari para pendidiknya untuk membekalinya menuju kea arah kedewasaan.

D.                Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian yang saya lakukan ini dimaksudkan untuk mengetahui bagaimana peran dari seorang guru dan orang tua beserta pentingnya sinergi atau kerjasama antara guru dan orang tua dalam hal mendidik anak.


















BAB II
KAJIAN PUSTAKA


A.                Peran Guru
Guru mempunyai peranan penting dalam mendidik anak. Peran tersebut diantaranya adalah sebagai pendidik, penasehat, dan model/keteladanan bagi anak didiknya, sehingga diharapkan dapat mencetak generasi penerus bangsa yang dapat merealisasikan setiap materi yang sudah diajarkan oleh pendidiknya.
1.                  Guru sebagai Pendidik
Menurut Ahmad Tafsir (2007:78), tugas guru adalah mendidik yang dilakukan dalam bentuk mengajar, memberi dorongan, memuji, menghukum, memberi contoh, membiasakan, dan lain-lain.

2.                  Guru sebagai Penasehat
Menurut A. Qodri A. Azizy (2003:166), guru harus bersikap sabar dalam menghadapi berbagai macam karakteristik anak didiknya. Guru harus berani memberikan nasehat dan arahan secara terus-menerus terhadap anak didiknya agar tidak terjadi dekadensi moral.

3.                  Guru sebagai Model/Keteladanan
Mohammad Asrori (2007:25), menyatakan bahwa guru berperan sebagai model atau figure yang hendaknya dapat membiasakan akhlakul-karimah agar dapat dicontoh dan direalisasikan oleh siswa dalam kehidupan sehari-hari.


B.                 Peran Orang Tua
Berkaitan dengan peran dan tanggungjawab orang tua, H.M Arifin (1998:5) mengemukakan 2 (dua) tugas pokok orang tua,  yaitu:

1.                  Orang Tua sebagai Pendidik
Untuk dapat melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya sebagai pendidik, orang tua dituntut agar mampu untuk:
a.                   Mengasuh dan membimbing anaknya
b.                  Mengawasi  dan memperhatikan pendidikan anaknya
c.                   Mengemudikan pergaulan anaknya
d.                  Memberikan qudwah (keteladanan) yang nyata.

2.                  Orang Tua sebagai Pemelihara dan Pelindung Keluarga
Orang tua di samping mempunyai tugas sebagai pendidik, ia juga harus memelihara keselamatan kehidupan keluarganya, baik moril maupun materiil. Oleh karena itu, alangkah idealnya bila orang tua mampu memenuhi kebutuhan anak-anaknya, antara lain papan, sandang, dan sebagainya (H.M. Arifin, 1998:5).
 











BAB III
ANALISIS DATA DAN
PEMBAHASAN

Sebelum masuk pada pembahasan, ada ilustrasi yang terkait dengan judul penelitian ini, mari kita simak:
Dulu ada seorang anak perempuan seusia 12 tahun, yang memiliki 3 orang adik. Ketika orangtuanya berangkat haji, anak ini dengan tlaten selalu menjaga adik-adiknya, menyiapkan pakaian sekolah adik-adiknya, sambil ikut membantu neneknya menyiapkan sarapan. Ketika sore dia telaten mengajak adik-adiknya untuk mengaji kemudian bermain bersama. Para tetangga yang melihatnya pun merasa kagum dengan anak ini.
Suatu saat anak perempuan ini jatuh sakit sehingga harus opname di rumah sakit. Banyak tetangga, teman, sahabat dan saudara yang menjenguknya. Setiap kali ada yang menjenguknya, dengan menggunakan kata-kata yang tertatih tatih dan kadang dengan isyarat, anak perempuan ini selalu minta dibacakan Al-Qur’an. Hal ini membuat dokter dan para perawat marasa takjub. Akhirnya berita ini menyebar luas, semakin banyak yang menjenguk, dan anak ini semakin senang, dia terus saja minta dibacakan Al-Qur’an. Subhanallah, Allah SWT ternyata puya rencana indah untuk anak ini. Dia meninggal dengan mudah, disaksikan oleh keluarganya, di wajahnya terpancar senyum terlebih di akhir hayatnya yang didengar adalah lantunan bacaan Al-Qur’an.
Ketika melayat banyak yang bertanya, bagaimana anak ini memiliki akhlakul-karimah yang luar biasa. Ternyata jawabannya, karena sejak kecil orangtuanya sudah menanamkan budi pekerti yang baik, rasa saling mencintai, tolong menolong dan menghormati gurunya. Sedangkan yang mengajarkan dia senang menbaca Al-Qur’an adalah gurunya yang selalu mengingatkan, membimbing, mengajarkan kecintaan pada Al-Qur’an dan gurunya juga berpesan hormatilah orangtuamu.
Para pembaca dan pendengar semuanya, ilustrasi di atas menggambarkan betapa pentingnya sinergi antara orang tua dan guru dalam mendidik anak.
A.                Peran Guru dalam Mendidik Anak

Berdasarkan penelitian yang saya lakukan pada sebagian pengajar dan orang tua/wali murid TPQ Al-Barokah, Kelurahan Arcawinangun RT 01/09 Kecamatan Purwokerto Timur, dapat saya simpulkan bahwa peran dari seorang guru dalam mendidik anak antara lain:

1.                  Menanamkan Kepribadian yang Baik dan Menjadi Teladan bagi Murid
Seorang guru haruslah memilki kepribadian yang luhur dan mulia agar dapat menjadi teladan bagi muridnya. Guru adalah pihak kedua setelah orang tua dan keluarga yang paling banyak berinteraksi dengan murid. Guru sangat berpengaruh dalam perkembangan seorang murid. Terlebih sebagai makhluk sosial seorang murid memiliki kecenderungan untuk mencontoh.
Oleh karena itu, seorang guru tidak boleh menjatuhkan kehormatan pribadinya di depan murd dengan melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan kriteria seorang guru. Perilaku guru dalam mengajar akan mempengaruhi motivasi balajar pada murid. Dalam mendidik murid, seorang guru tidak boleh hanya sebatas kata-kata, melainkan harus diaplikasikan dalam bentuk perilaku, tindakan dan contoh-contoh yang baik. Karena sejatinya perilaku itu lebih mudah dan lebih banyak dicontoh daripada hanya sekedar kata-kata.

2.                  Mendidik Sesuai dengan Keunikan dan Karakter Murid
Dalam mendidik murid, guru harus jeli memperhatikan keunikan dan karakter murid-nya yang tentu berbeda-beda. Dengan cara mengenali keunikan dan karakter masing-masing murid, guru dapat memperlakukan anak didiknya dengan lebih tepat. Adapun beberapa keunikan (perbedaan) yang dimiliki murid antara lain:

a.                   Perbedaan fisik
Antara murid yang satu dengan yang lain tentu punya perbedaan dalam hal fisik. Yang harus diperhatikan disini adalah guru dilarang menggunakan fisik sebagai bahan bercanda, terlebih olok-olokan! Termasuk jika ada murid yang mengolok-olok atau memanggil nama temannya yang menyangkut fisik, guru harus menegur.
Termasuk dalam memahami perbedaan fisik, hendaknya guru tidak pilih kasih dalam menerapkan pelajaran hanya kepada yang memiliki fisik lebih sempurna, misalnya guru laki-laki cenderung lebih senang memperhatikan murid perempuan, begitu pula sebaliknya. Guru harus berlaku adil pada seluruh muridnya, terlebih bagi murid yang memiliki keterbatasan fisik, tentu perhatian dari seorang guru sangat dibutuhkan.

b.                  Perbedaan kecerdasan
Kemampuan menyesuaikan penyampaian dengan tingkat kecerdasan murid adalah salah satu kemampuan yang harus dimiliki guru. Kemampuan ini sangat diperlukan karena akal dan tingkat kecerdasan murid berbeda-beda. Guru hendaknya tidak mudah memberikan label negatif pada murid yang belum paham mengenai materi yang disampaikan. Terlebih mengeluarkan kata, “Kamu bodoh, seperti ini saja tidak bisa.” Termasuk menyangkut nama orang tuanya, seperti, “Masak anaknya pak kyai begini saja tidak bisa.” Karena bisa jadi anak yang belum paham terhadap materi yang disampaikan bukan karena kecerdasannya yang kurang, tetapi mungkin karena gurunya sendiri yang belum bisa memberikan penyampaian yang baik.
Guru jangan cepat putus asa dengan kondisi murid yang memiliki kekurangan. Harusnya hal seperti itu dijadikan sebagai tantangan untuk mencari formula, cara terbaik agar murid yang memiliki kekurangan bisa semakin paham. Guru harus tetap optimis, khusnudzan billah, jangan belum apa-apa sudah mundur dari medan laga, dengan mengatakan, “Ah, bagaimana bisa pintar, kalau model anaknya saja seperti ini.” Guru yang hebat itu bukan guru yang mengajar murid yang sudah pintar, melainkan guru yang bisa mengajar murid yang belum tahu menjadi tahu, yang sudah tahu semakin tahu, dan bisa diamalkan oleh murid-muridnya.  

c.                   Perbedaan karakter
Secara umum, karakter yang biasa dimiliki seorang anak antara lain aktif, pemalas, semangat, mudah tersinggung, pemberani, penakut, periang, pendiam, suka berinteraksi, dll. Guru harus pandai-pandai menganalisis karakter anak didknya. Tentu saja beda karakter beda penanganannya.

3.                  Menciptakan Suasana Belajar yang Nyaman
Agar murid selalu tertarik untuk mendatangi majelis pengajian, guru hendaknya selalu menciptakan suasana belajar yang nyaman bagi murid-muridnya. Nyaman disini tidak harus mewah, tetapi bisa kondusif dan menyenangkan. Para guru harus kreatif memanfaatkan waktu, media dan ruang yang ada. Misalnya, saat mengajar anak-anak menggunakan media-media seperti gambar, warna, games (tanya jawab), dan cerita. Saat mengajar remaja bisa menggunakan area terbuka/selain masjid untuk mengaji, seperti di taman, halaman, dan yang lainnya.

B.                 Peran Orang Tua dalam Mendidik Anak

Berdasarkan penelitian yang saya lakukan pada sebagian pengajar dan orang tua/wali murid TPQ Al-Barokah, Kelurahan Arcawinangun RT 01/09 Kecamatan Purwokerto Timur, dapat saya simpulkan bahwa peran dari orang tua dalam mendidik anak antara lain:

1.                  Mengutamakan Pendidikan Agama
Ayah-bunda yang saya muliakan, utamakanlah pendidikan agama untuk anak-anak kita. Namun, bukan berarti mengesampingkan ilmu dunia. Jangan sampai anak-anak kita pandai dalam ilmu duniawi tetapi lemah dalam ilmu akhirat.
Adapun dalam mengutamakan pendidikan agama, yang harus dilakukan orang tua kepada anaknya, antara lain:

a.                   Memantapkan akidah (keimanannya)
Iman kepada Allah, iman kepada malaikat-malaikat Allah, iman kepada kitab-kitab Allah, iman kepada rasul Allah, iman kepada hari akhir, iman kepada qodar baik maupun buruk semua dari Allah, adalah merupakan akidah yang benar sebagai modal dasar bagi anak dalam mengarungi kehidupannya. Dengan akidah yan kuat, ketahanan keimanan anak juga akan kuat. Sejak kecil orang tua sudah harus mengenalkan dan menumbuhkan rasa cinta kepada Allah, Rasulullah, senang dengan kisah-kisah teladan para nabi, sahabat nabi dan ulama’ shalih, serta senang mendatangi majelis ilmu. Orang tua ibarat arsitek yang seharusnya memiliki rencana dan strategi ke depan anaknya mau dijadikan seperti apa.
Tentu semua orang tua memnginginkan anaknya jadi anak yang sukses, bahagia dunia-akhirat. Mayoritas orang tua menganggap hal terpenting saat ini adalah memikirkan masa depan anak. Anak harus jadi dokter, polisi, pejabat, dan profesi lainnya. Anak ini tidak salah, hanya saja seandainya orang tua tahu, dengan dibekali akidah sejak kecil, saat dewasa nanti bukan hanya jadi dokter, melainkan juga jadi dokter yang alim dan berjiwa penyayang; bukan hanya jadi sekedar polisi, melainkan juga jadi polisi yang alim dan berakhlak mulia; bukan hanya jadi pejabat, tetapi juga jadi pejabat yang alim, jujur, dan amanah. Otomatis jika anak sudah ditanamkan akidah sejak kecil, sebagai anak yang shalih dan shalihah akan membalas budi baik dan membahagiakan orang tuanya di dunia sampai akhirat.

b.                  Memperbaiki akhlaknya
Orang tua adalah public figure terhadap anak-anaknya. Akhlak anak bergantung bagaimana orang tua menyiapkan dan menanamkannya. Jangan sampai orang tua hanya menyalahkan lingkungan. Memang lingkunga sangat mempengaruhi anak, terutama saat remaja, hanya saja jika sejak kecilku anak sudah berada di bawah pengawasan dan mendapat bimbingan dari orang tua, maka saat remaja anak akan lebih mudah diarahkan.

c.                   Merajinkan ibadahnya
Setelah akidah dan akhlak anak kuat, orang tua selanjutnya menekankan pada aspek ibadah. Terlebih dalam hal ini yang harus diperhatikan oleh orang tua adalah shalat. Sebagaimana dicontohkan dalam Al-Qur’an ketika Luqman menasehati anaknya tentang shalat:
¢Óo_ç6»tƒ ÉOÏ%r& no4qn=¢Á9$# öãBù&ur Å$rã÷èyJø9$$Î/ tm÷R$#ur Ç`tã ̍s3ZßJø9$# ÷ŽÉ9ô¹$#ur 4n?tã !$tB y7t/$|¹r& ( ¨bÎ) y7Ï9ºsŒ ô`ÏB ÇP÷tã ÍqãBW{$# ÇÊÐÈ  
Artinya:
“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk tetapnya perkara.”
                                                                                                            (QS. Luqman: 17)



2.                  Tidak Membiarkan Anak Berkembang Sendirian
Ayah-bunda yang saya banggakan, menurut penelitian saya saat ini ada orang tua yang salah dalam mempraktekan ilmu psikologi, dimana banyak buku, banyak pembicara yang mengatakan “biarkan anak kita memilih jalan hidupnya sendiri.” Kalau anak-anak bisa memilih jalan hidupnya sendiri apa bedanya kita dengan binatang? Justru anak manusia diberikan Allah SWT kepada kita, untuk dibimbing dan diarahkan.
Tidak semua apa yang dijelaskan dalam ilmu psikologi selalu tepat. Terlebih kita sebagai umat Islam harus pandai menyaring, mana yang bisa kita pergunakan. Orang tua punya kewajiban dalam mendampingi dan mengarahkan anak-anaknya, karena kelak kita sebagai orang tua akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat.

3.                  Membiayai Pendidikan
Anak adalah aset bagi orang tua, anak adalah investasi berharga bagi orang tua. Oleh karena itu, agar anak-anak kita bisa berhasil dunia-akhiratnya dibutuhkan dukungan biaya. Pembiayaan pendidikan disini bukan hanya serta merta pendidikan dunia saja (sekolah), melainkan dukungan biaya dalam pendidikan agama harus lebih diperhatikan.

4.                  Meluangkan Waktu
Orang tua harus bisa meluangkan waktunya untuk anak dan keluarganya. Apalah artinya bekerja dari pagi sampai menjelang malam, jika pada akhirnya waktu berkumpul bersama anak dan keluarga tidak ada. Meluangkan waktu disini tidak harus sehari penuh, 1 jam asalkan bemanfaat dan berkualitas itu lebih baik daripada berjam-jam tetapi tidak bermanfaat.

5.                  Membangun Komunikasi dengan Guru
Sebagai orang tua hendaknya terbuka kepada guru dengan kondisi anaknya, agar guru dapat memperlakukan anak sesuai dengan kondisinya. Begitu pula orang tua hendaknya berterima kasih terhadap informasi yang diberikan guru tentang anaknya. Apabila guru melaporkan perkembangan yang kurang baik, orang tua hendaknya tidak merasa dijatuhkan, dijelek-jelekan, justru malah disyukuri terlebih dahulu berarti masih ada kesempatan untuk membina dan merubah anaknya menjadi lebih baik.

BAB IV
PENUTUP

Kesimpulan

Dalam hal membina dan mendidik anak, tidak hanya tanggung jawab guru, melainkan menjadi tanggung jawab orang tua. Oleh karena itu dibutuhkan sinergi, kerjasama antara orang tua dan guru dalam mendidik anak. Guru harus terus berupaya, belajar memberikan pemahaman yang terbaik dan jadi teladan bagi muridnya. Orang tua juga harus terus berkarya, memberikan contoh, meluangkan waktu dan pikirannya, tenaga dan hartanya untuk mensukseskan pendidikan anak-anaknya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar