Senin, 26 November 2012

17 Ciri Orang yang Mencintai Kamu..

17 Ciri Orang yang Mencintai Kamu:
1. Seseorang yang mencintai kamu, tidak bisa memberikan alasan mengapa, ia mencintaimu. Dia hanya tahu, dimata dia, kamulah satu satunya…

2. Seseorang yang mencintai kamu, sebenarnya selalu membuatmu marah, gila, jengkel, stress. Tapi ia tidak pernah tahu hal bodoh apa yang sudah ia lakukan, karena semua yang ia lakukan adalah untuk kebaikanmu…

3. Seseorang yang mencintai kamu, jarang memujimu, tetapi di dalam hatinya kamu adalah yang terbaik, hanya ia yang tahu…

4. Seseorang yang mencintai kamu, akan marah-marah atau mengeluh jika kamu tidak membalas pesannya atau telp-nya, karena ia peduli dan ia tidak ingin sesuatu terjadi ke kamu...

5. Seseorang yang mencintai kamu, hanya menjatuhkan airmatanya dihadapanmu. Ketika kamu mencoba untuk menghapus air matanya, kamu telah menyentuh hatinya, dimana hatinya selalu berdegup, berdenyut, bergetar untuk kamu…

6. Seseorang yang mencintai kamu, akan mengingat setiap kata yg kamu ucapkan, bahkan yang tidak sengaja dan ia akan selalu menggunakan kata2 itu tepat waktunya...

7. Seseorang yang mencintai kamu, tidak akan memberikan janji apapun dengan mudah, karena ia tidak mau mengingkari janjinya. Ia ingin kamu untuk mempercayainya dan ia ingin memberikan hidup yang paling bahagia dan aman selama-lamanya…

8. Seseorang yang mencintai kamu, mungkin tidak bisa mengingat kejadian atau kesempatan istimewa, seperti perayaan hari ulang tahunmu, tapi ia tahu bahwa setiap detik yang ia lalui, ia mencintai kamu, tidak peduli hari apakah hari ini…

9. Seseorang yang mencintai kamu, tidak mau berkata Aku mencintaimu dengan mudah, karena segalanya yang ia lakukan untuk kamu adalah untuk menunjukkan bahwa ia siap mencintaimu, tetapi hanya ia yg akan mengatakan kata "I LOVE YOU" pada situasi yang spesial, karena ia tidak mau kamu salah mengerti, dia mau kamu mengetahui bahwa ia mencintai dirimu

10. Seseorang yang benar - benar mencintai kamu, akan merasa bahwa sesuatu harus dikatakan sekali saja, karena ia berpikir bahwa kamu telah mengerti dirinya. Jika berkata terlalu banyak, ia akan merasa bahwa tidak ada yang akan membuatnya bahagia dan tersenyum…

11. Seseorang yang mencintai kamu, akan pergi ke airport untuk menjemput kamu, dia tidak akan membawa seikat mawar dan memanggilmu sayang seperti yang kamu harapkan. Tetapi, ia akan membawakan kopermu dan menanyakan : “Mengapa kamu menjadi lebih kurus dalam waktu 2 hari?” Dengan hatinya yang tulus…

12. Seseorang yang mencintai kamu, tidak tahu apakah ia harus menelponmu ketika kamu marah, tetapi ia akan mengirimkan pesan setelah beberapa jam. Jika kamu menanyakan : mengapa ia telat menelepon, ia akan berkata : Ketika kamu marah, penjelasan dari dirinya semua hanyalah sampah. Tetapi, ketika kamu sudah tenang, penjelasannya baru akan benar - benar bekerja dan berguna.

* 13. Seseorang yang mencintaimu, akan selalu menyimpan semua benda - benda yang telah kamu berikan, bahkan kertas kecil bertuliskan 'I LOVE YOU' ada didalam dompetnya...

14. Seseorang yang mencintaimu, jarang mengatakan kata - kata manis. Tapi kamu tahu, 'kecupannya' sudah menyalurkan semua...

15. Seseorang yang mencintai kamu, akan selalu berusaha membuat mu tersenyum dan tertawa walau terkadang caranya membingungkanmu...

16. Seseorang yang mencintaimu, akan membalut hatimu yang pernah terluka dan menjaganya dengan setulus hati agar tidak terluka lagi dan ia akan memberikanmu yang terbaik walau harus menyakiti hatinya sendiri…

17. Seseorang yang mencintaimu, akan rela melepaskanmu pergi bila bersamanya kamu tidak bahagia dan ia akan ikut bahagia walau kamu yang dicintainya bahagia bersama orang lain…

Jumat, 09 November 2012

Ujian Nasional; Antara Pemetaan Mutu Pendidikan dan Penentu Kelulusan


UJIAN NASIONAL: ANTARA PEMETAAN MUTU PENDIDIKAN DAN PENENTU KELULUSAN


PENDAHULUAN

Pendidikan adalah proses pembentukan kecakapan fundamental secara intelektual dan emosional yang merupakan suatu usaha untuk mengembangkan kualitas manusia yang berguna dan bermutu untuk kemajuan bangsa dan negara. Pendidikan yang bermutu pada hakikatnya adalah suatu kegiatan yang secara sadar dan disengaja, serta penuh tanggung jawab yang dilakukan oleh guru untuk meningkatkan kualitas belajar siswa. Saat ini, pendidikan yang bermutu sering dipandang sebagai suatu kegiatan yang penting untuk menyongsong perubahan dan perkembangan di masa yang akan datang.
Untuk mencapai pendidikan yang bermutu diperlukan Sumber Daya Manusia (SDM) yang bermutu pula. Adapun dalam rangka peningkatan mutu pendidikan, peran serta dan dukungan semua pihak yang terkait sangat dibutuhkan baik dari pihak sekolah, masyarakat, maupun pemerintah. Oleh karena itu, Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 pasal 63 ayat 1 mengamanatkan tiga jenis penilaian yang dilakukan terhadap peserta didik. Salah satunya, penilaian hasil belajar yang dilakukan oleh pemerintah. Pasal 66 menegaskan bahwa bentuk penilaian yang dilakukan oleh pemerintah tersebut dalam bentuk Ujian Nasional untuk mata pelajaran tertentu.
Dalam praktek penyelenggaraan Ujian Nasional, pemerintah menugaskan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) dengan bekerjasama dengan instansi terkait di lingkungan pemerintah pusat, daerah, dan satuan pendidikan untuk menyelenggarakan Ujian Nasional tersebut. Namun, perlu disadari bahwa banyak masyarakat bahkan pakar pendidikan sekalipun yang menyatakan bahwa kebijakan Ujian Nasional masih cukup kontroversial. Logika sederhana bagaimana bisa menyeragamkan output (lulusan) di seluruh Indonesia kalau input dan proses pendidikan di seluruh wilayah tanah air ini belum seragam.
Banyak hal yang sebenarnya mendiskritkan mengenai Ujian Nasional, tidak hanya dari kalangan masyarakat tetapi dari kalangan lembaga pendidikan sendiri. Dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas (Sistem Pendidikan Nasional), pada Bab 1 Pasal 1 ayat 21 disebutkan, “evaluasi pendidikan adalah kegiatan pengendalian, penjamin, dan penetapan mutu pendidikan terhadap berbagai komponen pada setiap jalur, jenjang, dan jenis pendidikan sebagai bentuk pertanggungjawaban penyelenggaraan pendidikan.”


PEMBAHASAN

A.                Latar Belakang Penyelenggaraan Ujian Nasional

Sejak tahun 1984 sampai tahun 2001 yang lalu kita telah mengetahui serta mengenal apa yang disebut EBTA (Evaluasi Belajar Tahap Akhir) yaitu merupakan suatu penilaian akhir terhadap sebuah jenjang pendidikan untuk menentukan kelulusan seseorang. EBTA ini berlaku bagi jenjang pendidikan SD, SMP/yang sederajat, SMA dan SMK/yang sederajat.
Dalam EBTA ini berdasarkan asal-usul soal ada dua macam, yaitu soal yang berasal dari Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) Pusat atau yang disebut dengan istilah EBTANAS (Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional), yakni soal-soal yang telah standar, sehinga para siswa diharapkan dapat mengetahui tingkat kualitas pendidikan di setiap sekolah, baik daerah maupun wilayah. Selain soal yang berasal dari Depdiknas Pusat, juga ada soal yang dibuat atas kewenangan pihak sekolah masing-masing. Soal ini sering disebut dengan EBTA Sekolah.
Sejalan dengan perkembangan pendidikan, dalam rangka untuk meningkatkan mutu pendidikan maka sejak tahun ajaran 2001/2002 istilah EBTA diganti dengan Ujian Akhir Nasional (UAN)[1] atau sekarang Ujian Nasional (UN). Pada tahun ajaran 2002/2003 Ujian Nasional tetap diselenggarakan bahkan hingga sekarang. Namun, ada beberapa perubahan dalam setiap tahunnya, terutama menyangkut jumlah mata pelajaran, standar nilai, dan lainnya.  

B.                 Pengertian Ujian Nasional

Ujian Nasional adalah kegiatan penilaian hasil belajar peserta didik yang telah menyelesaikan jenjang pendidikan pada jalur sekolah/madrasah yang diselenggarakan secara nasional. Jadi, berdasarkan pengertian tersebut, dapat penulis simpulkan bahwa yang disebut Ujian nasional itu merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh sekolah/madrasah terhadap siswa berupa penilaian hasil belajar yang diikuti oleh para siswa yang telah menyelesaikan jenjang pendidikan atau siswa yang berada pada kelas akhir sebagai salah satu syarat mengetahui mutu atau kemampuan siswa dalam menguasai ilmu pengetahuan yang telah diajarkandan siswa yang telah melakukan kegiatan terseut memiliki hak untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya jikalau hasil yang diperoleh memutuskan demikian.
Adapun pengertian Ujian Nasional menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 20 Tahun 2005 Pasal 4, dijadikan pertimbangan untuk:
v    Penentuan kelulusan peserta didik dari suatu satuan pendidikan.
v    Seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya.
v    Pemetaan mutu satuan dan/atau program pendidikan.
v    Akreditasi satuan pendidikan.

C.                 Dasar Hukum Penyelenggaraan Ujian Nasional

Yang menjadi landasan atau dasar pelaksanaan Ujian Nasional adalah sebagai berikut:[2]
1.      UU No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Tahun 1999 No. 60 Tambahan Lembaran Negara No. 3839)
2.      UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Tahun 2003 No. 78 Tambahan Lembaran Negara No. 4301)
3.      Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 1990 tentang Pendidikan Dasar (Lembaran Negara Tahun 1990 No. 36, Lembaran Negara No. 3412)
4.      Peraturan Pemerintah No. 29 Tahun 1990 tentang Pendidikan Menengah (Lembaran Negara Tahun 1990 No. 37, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3413)
5.      Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No. 114/U/2001 tentang Ujian Nasional

D.                Tujuan dan Fungsi Ujian Nasional

1.                  Tujuan Umum Ujian Nasional

Berbicara mengenai pendidikan pada umumnya, maka kita harus menyadari bahwa segala proses pendidikan selalu diarahkan untuk dapat menciptakan manusia yang mempunyai kualitas sebagai tenaga terdidik bagi kepentingan bangsa, negara, tanah air, dan agama. Demikian pentingnya SDM (Sumber Daya Manusia) tersebut sebagaimana diterangkan dalam Al-Qur’an:[3]

“Hai orang-orang yang beriman apabila dikatakan kepadamu : “Berlapang-lapanglah dalam majlis,” maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu, dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu,” maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan dengan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan.”

Dari ayat diatas membuktikan bahwa agama juga memotivasi manusia agar menjadi manusia yang berkualitas, baik dalam ilmu pengetahuan umum, terkhusus dalam hal ke-Islaman, serta mengaplikasikannya dengan akhlakul karimah untuk mencapai tujuan insan kamil.
Demikian pula dengan pemberlakuan Ujian Nasional ini tentunya pihak pemerintah memiliki tujuan tertentu terhadap dunia pendidikan di Indonesia ini. Adapun tujuan dari diadakannya Ujian Nasional adalah sebagai sebuah inovasi atau reformasi dalam sebuah sistem pendidikan yang selama ini dinilai tidak sepatuhnya dipergunakan lagi dalam dunia pendidikan yang cukup lama diberlakukan dalam dunia pendidikan.
Pemerintah telah mengambil kebijakan untuk menerapkan Ujian Nasional sebagai salah satu bentuk evaluasi pendidikan. Menurut keputusan Menteri Pendidikan Nasional No. 153/U/2003 tentang Ujian Nasional, disebutkan bahwa tujuan Ujian Nasional adalah untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik melalui pemberian tes kepada siswa. Selain itu, Ujian Nasional bertujuan untuk mengukur mutu pendidikan dan mempertanggungjawabkan penyelenggaraan pendidikan di tingkat nasional, provinsi, kabupaten, sampai di tingkat sekolah.
Dengan demikian, berdasarkan isi pasal di atas maka penulis dapat mengambil suatu kesimpulan bahwa tujuan dari dilaksanakannya Ujian Nasional tersebut adalah sebagai pengatur untuk mencapai hasil belajar para siswa di sekolah, disamping itu juga sebagai pengukur mutu atau kualitas pendidikan yang selama ini diselenggarakan oleh sekolah/madrasah masing-masing sehingga dapat diketahui berhasil tidaknya tujuan masing-masing lembaga tersebut serta untuk mempertanggungjawabkan pendidikan yang telah dilakukan kepada masyarakat sebagai penerima kelulusan.

2.                  Fungsi Penyelenggaraan Ujian Nasional

Sama halnya dengan tujuan dari Ujian nasional, fungsi Ujian Nasional pun telah termaktub dalam Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No. 153/U/2003 tentang Ujian Nasional, yang terdapat dalam pasal 3, yaitu berfungsi sebagai:[4]
a.                   Alat pengendali mutu pendidikan.
b.                  Pendorong peningkatan mutu pendidikan.
c.                   Bahan dalam menentukan kelulusan peserta didik.
Ad. a) Alat pengendali mutu pendidikan secara nasional maksudnya adalah bahwa Ujian Nasional merupakan alat untuk dapat mengetahui mutu pendidikan secara nasional dan dapat pula memperbaiki kekurangan-kekurangan yang terdapat dalam pelaksanaan Ujian Nasional pada tahun berikutnya.
Ad. b) Pendorong peningkatan mutu pendidikan maksudnya adalah dengan adanya Ujian Nasional diharapkan tingkat kompetisi untuk berprestasi semakin meningkat di antara sekolah/madrasah maupun antara peserta didik, karena mengetahui tolak ukur dari kualitas lulusan peserta didik yang lulus pada tahun tersebut, hingga memotivasi untuk dapat menjadi lebih baik lagi.
Ad. c) Bahan daam menentukan kelulusan peserta didik maksudnya Ujian Nasional diselenggarakan tidak lain adalah untuk mengukur kemampuan siswa serta memutuskan untuk lulus tidaknya seorang peserta didik untuk dapat melanjutkan ke jenjang berikutnya.
Jadi, pelaksanaan Ujian Nasional ini berfungsi sebagai alat untuk mengendalikan mutu pendidikan sehingga diketahui mutu pendidikan yang telah dilaksanakan secara nasional dan dapat berfungsi sebagai pendorong agar pendidikan di Indonesia dapat terus meningkat dalam hal mutunya. Dalam pelaksanaan Ujian Nasional juga berfungsi sebagai penentu kelulusan dan sebagai bahan pertimbangan bagi lembaga pendidikan yang lebih tinggi melakukan seleksi dalam penerimaan siswa baru.

E.                 Analisis Kebijakan Ujian Nasional
Ujian Nasional masih tetap dilaksanakan .Aktivitas tahunan biasa, pra-Ujian Nasional, para guru dan siswa sibuk dengan persiapan menghadapi Ujian Nasional tersebut, dengan menambah jam pelajaran diluar jam sekolah dan bimbingan belajar diluar sekolah pun dilakukan para siswa guna menghadapi Ujian Nasional. Pasca-Ujian Nasional, ekspresi siswa mencuat suka dan duka menjadi hal yang tak bisa dielakkan bagi siswa yang dinyatakan lulus dan tidak, sehingga keberadaan UN ini selalu menuai kontroversi.
Salah satu alasan mengapa penetapan standar dalam Ujian Nasional di perdebatkan keberadaannya adalah karena masalah mutu dan akses terhadap pendidikan di Indonesia yang belum merata antara daerah satu dengan daerah yang lain. Masalah tersebut menyebabkan terjadinya kesenjangan kualitas pendidikan antar-daerah. Kita tidak bisa menyamakan kualitas pendidikan di daerah terpencil dengan fasilitas pendidikan yang pas-pasan, bahkan bisa dibilang tidak layak dan akses yang terbatas dengan daerah perkotaan yang didukung dengan sarana dan prasarana yang serba ada. Maka jika kita menerapkan standar yang sama terhadap dua daerah dengan kondisi yang bertolak belakang tersebut dapat dikatakan bahwa kita telah bertindak tidak adil.
Bagaimana bisa daerah dengan kondisi serba keterbatasan dalam hal pendidikan dapat mencapai standar pendidikan yang biasanya diambil dari daerah dengan fasilitas pendidikan yang memadahi? Alternatif ini mencoba untuk memberikan solusi dengan perbaikan terhadap mutu dan pemerataan pendidikan terutama di daerah-daerah yang tertinggal sebelum menetapkan suatu standar pendidikan yang bersifat nasional.
Bicara masalah mutu pendidikan tidaklah bicara mengenai hasil, tetapi juga bicara masalah terkait dengan pemerataan pendidikan. Kualitas mutu pendidikan saat ini sungguh memprihatinkan, khususnya dalam masalah pemerataan. Mutu pendidikan antar wilayah dapat diukur dari Angka Partisipasi Murni (APM). Data Badan Pusat Statistik (BPS) dari 33 Provinsi di Indonesia 50% diantara masih memiliki APM yang rendah dari rata-rata nasional, tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) di NTT, NTB, dan terendah di Papua.[5]
Kalau dilihat bahwa pemerintah berdalih target utama diselenggarakannya Ujian Nasional adalah meningkatkan mutu. Dengan harapan setaraf dengan negara lain dalam mengejar ketertingggalan dari negara-negara Asia, bahkan dunia. Selain itu, penyelenggaraan Ujian Nasional diharapkan dapat membentuk manusia Indonesia yang memiliki kecerdasan berpikir, menciptakan manusia Indonesia berbudi pekerti luhur, dan memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) yang siap pakai serta berakhlak mulia.
 Belum lagi peristiwa meninggalnya seorang pelajar seusai mengikuti Ujian Nasional lantaran stress tidak mampu menjawab soal-soal, menjadi bukti dampak negatif dari Ujian Nasional. Bahkan fakta terakhir, kembali mencuatnya isu kekeramatan batu ponari dengan berbondong-bondongnya para pelajar yang akan mengikuti Ujian Nasional adalah merupakan bukti nyata akan kekeramatan Ujian Nasional, kecurangan dalam mekanisme ujian yang dilakukan oleh siswa dengan penyebaran jawaban melalui SMS, bahkan itu juga dilakukan oleh oknum guru yang tak ingin melihat tangisan perih pada akhir perjuangan peserta didik mereka. Belum lagi menyinggung persoalan anggaran Ujian Nasional yang tiap tahunnya diperkirakan mencapai 540 Milyar rupiah lebih.
Sekarang ini yang paling mendebarkan berdasarkan pembicaraan di berbagai media massa dan juga pembicaraan masyarakat di berbagai kesempatan, ada opini kuat yang terbangun bahwa kalau kita menghendaki pendidikan yang bermutu maka Ujian Nasional harus tetap dijalankan. Tanpa Ujian Nasional, pendidikan tidak akan bermutu. Apabila kelulusan hanya ditentukan oleh sekolah dan guru, berarti semua peserta didik akan lulus. Kalau semua peserta didik lulus, maka itu artinya pendidikan tersebut menjadi tidak bermutu.
Pendapat tersebut sangat tidak benar dan bertentangan dengan dasar filosofi dan teori pendidikan. Pandangan tersebut telah mengerdilkan arti pendidikan dengan tes dan mengubah proses pendidikan menjadi sebatas persiapan lulus tes semata.
Berdasarkan penelitian Benjamin Bloom dan Soedijarto ditemukan bahwa tingkah laku belajar peserta didik dipengaruhi oleh perkiraan tentang apa yang akan diujikan. Oleh karena itu Ujian Nasional akan menyebabkan:
a.       Peserta didik akan mempelajari dan menghafal mengenai apa yang akan diujikan.
b.      Guru akan mengajarkan peserta didik mengenai cara menjawab berbagai macam soal.
c.       Sekolah akan berusaha keras menyusun program termasuk mengadakan kegiatan les tambahan jam pelajaran.
d.      Orang tua akan mendorong anaknya untuk persiapan mengikuti Ujian Nasional.
e.       Pemerintah dalam rangka menjaga nama baik wilayahnya, ikut berupaya agar peserta didik dapat lulus semua.
f.       Penerbit buku akan berlomba-lomba menerbitkan kumpulan soal Ujian Nasional dan pembahasannya.

Kondisi seperti ini sebagai akibat dari penyelenggaraan Ujian Nasional sebagai penentu kelulusan, tidak sesuai dengan fungsi dan tujuan pendidikan nasional yang tertera dalam UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003.



PENUTUP

KESIMPULAN
Begitu banyak pertentangan tentang kebijakan Ujian Nasional dengan konsep pandidikan seutuhnya, yang pada dasarnya , tujuan pendidikan nasional maupun dengan tujuan Ujian Nasional itu sendiri. Dimana kebijakan Ujian Nasional kontra produktif bagi pendidikan nasional dan tujuan yang ingin dicapai menjadi gagal total bahkan hanya menimbulkan masalah baru. Kecurangan sistematik tidak hanya mengaburkan pemetaan mengenai kondisi pendidikan nasional tapi juga berdampak buruk bagi guru dan murid dan juga kreativitas murid terkungkung karena perhatian dan porsi pembelajaran lebih besar pada mata pelajaran pilihan pemerintah. Padahal tujuan pendidikan sesungguhnya adalah membentuk manusia cerdas, penuh kreativitas dan mandiri serta dapat mengatasi segala persoalan yang dihadapi.
Oleh karena itu pemerintah harus mengkaji ulang tentang kebijakan Ujian Nasional ini atau memberikan kepercayaan kepada tim agar dapat melakukan kegiatannya secara optimal. Dengan cara demikian maka perumusan kebijakan nasional pendidikan akan berjalan sesuai dengan aspirasi masyarakat dan menghasilkan kebijakan yang tepat bagi perkembangan bangsa dan negara di masa mendatang.








DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Zainal. 2009. Evaluasi Pembelajaran Prinsip-Teknik-Prosedur. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Suyanto., Djihad Hisyam. 2000. Refleksi dan Reformasi Pendidikan Di Indonesia Memasuki Milenium III. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa
Ahmad, Abu. 2001. Ilmu Pendidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta





[1] Zainal Arifin, Evaluasi Pembelajaran Prinsip-Teknik_Prosedur, hlm. 61
[2] http://edukasi.kompasiana.com/ diakses tanggal 22 Oktober 2012 pada pukul 12.42 WIB
[3] QS. Al-Mujaadilah ayat 11
[4] Zainal Arifin, Evaluasi Pembelajaran Prinsip-Teknik_Prosedur, hlm.62
[5] http://edukasi.kompasiana.com/ diakses tanggal 22 Oktober 2012 pada pukul 12.45 WIB

Tafsir Beberapa Ayat Al-Qur'an



A.                Surat An-Nisaa’ ayat 125

 “Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya.”

·                     Menurut Tafsir Ibnu Katsir
Bahwa agama itu bukanlah apa-apa yang diucapkan dan diangan-angankan, tetapi bersemayam di dalam lubuk hati dan dibuktikan dengan amal perbuatan. Dan tidak ada sesuatu yang diharapkan oleh seseorang akan diperolehnya hanya karena harapannya, juga tidak sembarang orang yang mengatakan bahwa ia benar akan didengarnya kata-katanya sebagai kebenaran tanpa adanya bukti yang nyata.

·         Menurut Tafsir  Jalalain
(Dan siapakah) maksudnya tidak seorang pun (yang lebih baik agamanya daripada orang yang menyerahkan dirinya) artinya ia tunduk dan ikhlas dalam beramal (karena Allah, sedangkan dia berbuat kebaikan) bertauhid (serta mengikuti agama Ibrahim) yang sesuai dengan agama Islam (yang lurus) menjadi hal, arti asalnya jalan condong, maksudnya condong kepada agama yang lurus dan meninggalkan agama lainnya. (Dan Allah mengambil Ibrahim sebagai kesayangan-Nya) yang disayangi-Nya secara tulus dan murni.

·         Kesimpulan
Dari pemahaman konsep di atas dapat saya simpulkan bahwa orang yang paling baik agamanya adalah orang yang selalu berusaha menyerah pada Allah dengan bentuk penyerahan yang ikhlas dan karena Allah, serta dia juga mengikuti agamanya Nabi Ibrahim (yang sesuai/sejalan dengan agama Islam) dengan keadaan condong/fanatik. Karena apa? Karena Allah menjadikan Nabi Ibrahim sebagai orang yang disayangi-Nya.




B.                 Surat Al-A’raaf ayat 156

 “Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini dan di akhirat; sesungguhnya kami kembali (bertaubat) kepada Engkau. Allah berfirman: "Siksa-Ku akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami."

·                     Tafsir Ibnu Katsir
Jundub bin Abdullah Al Hajalli RA berkata: seorang datang pada Nabi SAW. Setelah ia turun dari untanya, lalu mengikatnya. Kemudian shalat bersama Nabi SAW. Setelah shalat ia kembali ke untanya dan melepas ikatannya kemudian mengendarainya serta berdoa dengan suara keras: “Allahummarhamni wa muhammada walaa tusyrik fi rahmatinaa abadaa.” Rasulullah SAW mendengar suara itu lalu bersabda kepada sahabat: “Apakah kalian mengatakan orang itu lebih bodoh ataukah untanya, tidaklah kalian mendengar apa yang dikatakan?” Jawab sahabat, “Ya, kami dengar.” Nabi SAW bersabda pada Badui itu, “Anda telah membatasi rahmat Allah SWT yang sangat luas. Allah menjadikan seratus rahmat, maka diturunkan ke dunia satu rahmat untuk berkasih saying semua makhluk, jin, manusia, binatang, dan ditunda yang sembilan puluh sembilan untuk hari kiamat.”

·                     Tafsir Al Mishbah
Allah berfirman menyampaikan kepada Musa dan Harun AS, sekaligus sebagai informasi kepada seluruh manusia bahwa siksa-Ku akan Ku timpakan baik di dunia maupun di akhirat kepada siapa yang Aku kehendaki masing-masing sesuai dengan pelanggaranyang dilakukannya. Dan rahmat-Ku, yakni anugerah-Ku meliputi segala sesuatu yang wujud di jagad raya ini. Masing-masing memperoleh sesuai dengan kebijaksanaan-Ku. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku yang khusus, dan bersinambung untuk orang-orang yang bertaqwa, yakni yang melaksanakan perintah-Ku dan menjauhi larangan-Ku, terutama yang menunaikan zakat, dan mereka terhadap ayat-ayat Kami terus menerus beriman, yakni membenarkannya dengan hati dan perbuatan mereka.


·                     Kesimpulan
Menurut saya, dari ayat di atas dapat saya simpulkan bahwa Allah memberikan informasi kepada seluruh manusia lewat firman-Nya terhadap Musa dan Harun AS bahwa Allah nantinya akan menyiksa terhadap orang yang dikendaki-Nya saja, dalam arti mereka yang tidak mau bertaubat maka Allah akan menyiksanya, terkadang langsung diberikan di dunia, atau bahkan nanti diberikan di akhirat. Dan di akhirat nanti Allah akan memberikan rahmat-Nya pada orang-orang yang bertaqwa, termasuk mereka yang menunaikan zakat dan percaya terhadap ayat atau bukti kekuasaan Allah SWT.


C.                 Surat Qaaf ayat 16

 “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.”

·                     Tafsir Ibnu Katsir
Allah berfirman tentang kekuasaan-Nya terhadap manusia, bahwa Dia telah menciptakannya dan mengetahui segala gerak-gerik dan tingkah lakunya bahkan apa yang dibisikkan dalam hatinya. Malaikat-malaikatNya lebih dekat kepada manusia dari pada urat lehernya. Ketika dua malaikat yang mencatat amal dan perbuatan manusia, menyertainya seorang yang berada di sebelah kanannya yang mencatat amal baiknya dan seorang berada di sebelah kirinya dan mencatat amal dan perbuata buruknya. Tiada satu ucapan pun yang diucapkan oleh manusia melainkan yang ada didekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. Dan datanglah sakaratul maut yang selalu engkau takutkan dan akan lari dari padanya. Dan dituplah sangkakala menandakan ancaman dan hari hisab tiba, maka datanglah tiap-tiap pribadi yang disertai dua orang malaikat, seorang yang selau mengiringi-Nya dan seorang yang menjadi saksi bagi-Nya. Sesungguhnya engkau manusia selalu lalai akan tibanya hari ini, maka sekarang Allah singkapkan dari pAdamu tutup yang selalu menutupi matamu sehingga tajamlah pandangan dan penglihatanmu hari ini.

·                     Tafsir Jalalain
(Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia sedangkan Kami mengetahui) lafal Na'lamu ini berkedudukan menjadi Hal atau kata keterangan keadaan dan sebelumnya diperkirakan adanya lafal Nahnu (apa) huruf Maa di sini adalah Mashdariyah (yang dibisikkan) dibicarakan (oleh dia) yakni oleh manusia, huruf Ba di sini adalah Zaidah, atau untuk Ta'diyah (dalam hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya) maksudnya ilmu Kami (daripada urat lehernya) Idhafah di sini mengandung makna Bayan atau untuk menjelaskan, dan pengertian yang dimaksud dari lafal Al-Wariid adalah dua urat vital yang terdapat pada bagian belakang leher.



·                     Kesimpulan
Menurut pendapat saya bahwa setelah Allah menciptakan manusia, Allah mengutus dua malaikat yang selalu menjaga dan mencatat semua amal dan perbuatan yang dilakukan oleh manusia, baik maupun buruk. Namun, Allah-lah yang lebih mengetahui apa-apa yang dibisikkan (krenteg) dalam hatinya. Bahkan, Allah ini jauh lebih dekat daripada urat leher mereka sendiri (Allah Maha Mengetahui segala sesuatu).


D.    Surat Muhammad ayat 36

 “Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman dan bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepAdamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu.”

·                     Tafsir Ibnu Katsir
Allah SWT berfirman bahwasannya kehidupan duniawi itu tidak lebih hanyalah sebagai permainan dan sendau gurau, maka jika kamu beriman dan bertaqwa, Allah akan memberikan pAdamu dan sekali-kali tidak meminta-minta hartamu. Dia Maha Kaya, tidak membutuhkan kekeyaanmu dan hanya mewajibkan pAdamu bersedekah untuk menolong kawan-kawanmu yang fakir miskin.

·                     Tafsir Al Mishbah
Ayat di atas menyatakan bahwa sesungguhnya kehidupan dunia bagi orang-orang yang lengah hanyalah permainan yakni kegiatan tanpa tujuan yang benar dan sendau gurau yang mengantar kepada kelengahan sehinnga mereka meninggalkan yang penting atau yang lebih penting. Berbeda dengan kehidupan akhirat bagi yang sadar dan mengingat Allah SWT.

·                     Tafsir Jalalain
(Sesungguhnya kehidupan dunia) maksudnya, menyibukkan diri dalam kehidupan dunia (hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kalian beriman serta bertakwa) kepada Allah, yang demikian itu adalah termasuk perkara akhirat (Allah akan memberikan pahala kepada kalian dan Dia tidak akan meminta harta-harta kalian) semuanya, melainkan hanya zakat yang diwajibkan.

·                     Kesimpulan
Menurut saya, sesuai yang dikemukakan ayat di atas dapat saya katakan juga bahwa kehidupan dunia memang merupakan kehidupan yang bersifat permainan dan sendau gurau, dalam arti tidak lama dunia ini akan kita tinggalkan (bersifat sebentar). Bagi mereka yang bertaqwa di dunianya, maka Allah akan memberikan pahalanya. Allah juga tidak akan meminta hartanya manusia sama sekali (Allah Maha Kaya).



E.     Surat Al-Hadiid ayat 20

 “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.”

·                     Tafsir Ibnu Katsir
Menerangkan bentuk kehidupan dunia dalam semua tingkatnya sejak kecil berupa main-main, kemudian berubah menjadi hiburan, lalu perhiasan kecantikan dan ketampanan dan berbangga-banggaan, kemudian berbanyak-banyak harta dan anak buah, jika telah mencapai usia cukup tua. Tidak berbeda dengan air hujan yang di atas ladang, kebun dan menumbuhkan berbagi tumbuhan yang sangat menakjubkan. Orang-orang yang memperhatikannya, terutama orang-orang kafir yang tidak mengenal akhirat, mereka sangat kagum melihat hasil yang diperoleh dari kebun dan ladang itu. Kemudian tiba saatnya daun-daun tumbuhan itu menjadi kuning lalu berguguran menjadi sampah. Itulah contoh dunia bagimana indahnya akan habis, rusak dan binasa. Sedangkan akhirat ada siksa yang sangat berat keras, disamping ada pengampunan dan ridha Allah. Kehidupan dunia hanyalah bekal kesenangan sementara bagaikan menipu bagi orang yang menyangka akan dapat hidup kekal selamanya.

·                     Tafsir Jalalain
(Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan) sebagai perhiasan (dan bermegah-megahan antara kalian serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak) artinya, menyibukkan diri di dalamnya. Adapun mengenai ketaatan dan hal-hal yang membantu menuju kepadanya termasuk perkara-perkara akhirat (seperti) kehidupan dunia yang menyilaukan kalian dan kepunahannya sesudah itu bagaikan (hujan) bagaikan air hujan (yang membuat orang-orang yang bertani merasa kagum) merasa takjub (akan tanam-tanamannya) yang tumbuh disebabkan turunnya hujan itu (kemudian tanaman itu menjadi kering) lapuk dan kering (dan kamu lihat warnanya yang kuning itu kemudian menjadi hancur) menjadi keropos dan berjatuhan ditiup angin. (Dan di akhirat ada azab yang keras) bagi orang-orang yang lebih memilih keduniaan (dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya) bagi orang-orang yang lebih memilih akhirat daripada dunia. (Dan kehidupan dunia ini tidak lain) maksudnya bersenang-senang dalam dunia ini tiada lain (hanyalah kesenangan yang menipu).

·                     Kesimpulan
Menurut saya bahwa dunia ini tidak lain hanyalah permainan (bukanlah kehidupan yang sebenarnya abadi/kekal) dan perhiasan (kelihatannya indah, tetapi sebenarnya membujuk), serta dunia ini juga sebagai tempat untuk unggul-unggulan dalam masalah harta, dalam arti mereka manusia saling bersaing dalam kemewahan dan kemegahan dunia. Hal itu dapat digambarkan sebagaimana air hujan yang menumbuhkan dan menyuburkan tanaman, tetapi hanya beberapa saat tertentu saja.
È  
F.      Surat Al-Hasyr ayat 20
“Tidaklah sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni jannah; penghuni-penghuni jannah itulah orang-orang yang beruntung.”

·                     Tafsir Ibnu Katsir
Datanglah pada Nabi, seorang makanan sahabat Anshar membawa sekantongan yang hampir tak kuat mengangkatnya, kemudian berturut-turut orang memberikan sedekah sehingga aku melihat dua tumpuk makanan dan pakaian. Nabi SAW tampak wajahnya berseri-seri bersabda: “Siapa yang memberikan contoh amal kebaikan dalam Islam, maka ia mendapat pahalanya tanpa mengurangi dari pahala orang-orang itu sedikitpun. Dan siapa yang memberi contoh amal perbuatan yan jelek, maka ia menanggung dosanya dan dosa orang yang meniru tanpa mengurangi dosa orang-orang itu sedikitpun. “ (HR. Ahmad, Muslim). Dalam ayat ini, Allah memanggil semua orang yang beriman supaya benar melaksanakan taqwa kepada Allah dengan menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, kemudian bersiap-siap membenahi, membekali diri untuk menghadapi maut dari dalam kubur hingga di akhirat kelak, supaya lebih memperbanyak bekal yang berarti lebih beruntung dan terjamin bahagianya.

·                     Tafsir Al Mishbah
Tidak sama sama sekali dan sungguh jauh perbedaannya—baik dalam substansi maupun keadaannya, dalam cara hidup, atau tingkah lakunya, di dunia maupun di akhirat—antara yang melupakan Allah dan yang akan menjadi penghuni-penghuni neraka yang merugi dan tersiksa, dengan yang selalu mengingat-Nya dan yang aka menjadi penghuni surga yang dicurahi rahmat. Penghuni surga—mereka sajalah—tidak ada selain mereka yang merupak orang-orang beruntung dan berhasil mendapatkan dambaan mereka, serta terbebaskan dari segala yang mengeruhkan jiwa mereka.

·                     Kesimpulan
Menurut saya, antara penghuni neraka dengan penghuni surga jelas berbeda sekali. Penghuni surga adalah orang-orang yang beruntung, karena mereka merasakan manisnya segala kenikmatan dan segala rahmat yang diberikan oleh Allah kepada mereka ahli surga yang pol dan kekal abadi selama-lamanya. Sebaliknya, penghuni neraka akan merasakan pedihnya siksaan dan penderitaan yang pol dan kekal abadi selama-lamanya.


G.    Surat Al-Baqarah ayat 30
 “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
·                     Tafsir Ibnu Katsir
Ketika Allah memberitahukan kepada malaikat-Nya bahwa Dia akan menjadikan Adam sebagai khalifah di bumi maka para malaikat itu bertanya mengapa Adam yang hendak dijadikan khalifah di bumi padahal Adam dan keturunannya kelak akan berbuat kerusakan dan menumahkan darah di bumi. Para malaikat menganggap bahwa mereka lebih patut memangku jabatan itu, sebab mereka makhluk yang selalu bertasbih, memuji, dan mensucikan Allah. Allah tidak membenarkan aggapan mereka dan menjawab bahwa Dia mengetahui yang tidak diketahui oleh para malaikat. Segala yan akan dilakukan Allah adalah berdasarkan pengetahuan dan hikmah-Nya Yang Maha Tinggi walaupun tidak dapat diketahui oleh mereka, termasuk pengangkatan Adam sebagai khalifah di bumi. Yang dimakdud khalifah di bumi adalah kedudukannya di bumi ini untuk melaksanakan perintah da memakmurkan bumi serta memanfaatkan apa yang ada padanya.

·                     Tafsir Jalalain
(Dan) ingatlah, hai Muhammad! (Ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi") yang akan mewakili Aku dalam melaksanakan hukum-hukum atau peraturan-peraturan-Ku padanya, yaitu Adam. (Kata mereka, "Kenapa hendak Engkau jadikan di bumi itu orang yang akan berbuat kerusakan padanya) yakni dengan berbuat maksiat (dan menumpahkan darah) artinya mengalirkan darah dengan jalan pembunuhan sebagaimana dilakukan oleh bangsa jin yang juga mendiami bumi? Tatkala mereka telah berbuat kerusakan, Allah mengirim malaikat kepada mereka, maka dibuanglah mereka ke pulau-pulau dan ke gunung-gunung (padahal kami selalu bertasbih) maksudnya selalu mengucapkan tasbih (dengan memuji-Mu) yakni dengan membaca 'subhaanallaah wabihamdih', artinya 'Maha suci Allah dan aku memuji-Nya'. (dan menyucikan-Mu) membersihkan-Mu dari hal-hal yang tidak layak bagi-Mu. Huruf lam pada 'laka' itu hanya sebagai tambahan saja, sedangkan kalimat semenjak 'padahal' berfungsi sebagai 'hal' atau menunjukkan keadaan dan maksudnya adalah, 'padahal kami lebih layak untuk diangkat sebagai khalifah itu!'" (Allah berfirman,) ("Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui") tentang maslahat atau kepentingan mengenai pengangkatan Adam dan bahwa di antara anak cucunya ada yang taat dan ada pula yang durhaka hingga terbukti dan tampaklah keadilan di antara mereka. Jawab mereka, "Tuhan tidak pernah menciptakan makhluk yang lebih mulia dan lebih tahu dari kami, karena kami lebih dulu dan melihat apa yang tidak dilihatnya." Maka Allah Taala pun menciptakan Adam dari tanah atau lapisan bumi dengan mengambil dari setiap corak atau warnanya barang segenggam, lalu diaduk-Nya dengan bermacam-macam jenis air lalu dibentuk dan ditiupkan-Nya roh hingga menjadi makhluk yang dapat merasa, setelah sebelumnya hanya barang beku dan tidak bernyawa.
{ وَعَلَّمَ ءادَمَ الاسماء } أي : أسماء المسميات { كُلَّهَا } القصعه والقُصَيْعَة والفسوة والفُسيَّة والمِغْرَفَة بأن ألقى في قلبه علمها { ثُمَّ عَرَضَهُمْ } أي المسميات وفيه تغليب العقلاء { عَلَى الملائكة فَقَالَ } لهم تبكيتاً { أَنبِئُونِى } أخبروني { بِأَسْمَاءِ هَؤُلاءِ } المسميات { إِن كُنتُمْ صادقين } في أني لا أخلق أعلم منكم أو : أنكم أحق بالخلافة وجواب الشرط دل عليه ما قبله .

·                     Kesimpulan
Menurut saya bahwa ketika Allah hendak menjadikan Nabi Adam sebagai khalifah di bumi, para malaikat sama complain pada Allah. Mereka seakan-akan tidak menerima sesuatu yang diputuskan Allah itu. Mereka menganggap dirinya lah yang pantas dijadikan khalifah di muka bumi. Tetapi Allah punya rencana indah yang mana para malaikat itu tidak mengetahuinya.